h1

Tintanya hilang pake aseton

April 9, 2009

Rupanya saya mencelupkan jari terlalu dalam ke dalam botol tinta, akhirnya bekas tintanya bleber an jadi ga enak dipandang. Tapi syukur deh ternyata bekas tintanya hilang pake aseton.Dan kelingking saya jadi bersih lagi..

yup! saya mencontreng. dan saya bangga

terlepas dari beragam opini tentang  golput dan isu-isu lain dari berbagai pihak yang pro dan kontra pemilu, mulai dari debat di televisi sampai ke notes di lingkaran pertemanan dunia maya, saya memilih –>see..memilih memang bagian dari hidup. Saya mantap memilih untuk mencontreng dan jadi ‘berwarna’, tidak ‘putih’.

Ayah saya tentara, sehingga dia tidak ikut pemilu. Yang bisa ikut pemilu tinggal ibu dan adik saya. Kami bertiga jalan bersama ke TPS dekat rumah untuk mencontreng. Wow ada 4 kertas suara! dan semuanya besar sekali kalo direntangkan. di bagian kertas suara DPD, saya agak lost track bekas lipatan kertasnya, jadinya si kertas gak bisa kembali ke posisi semula. Soalnya ga sesimpel lipatan kertas tissue, tapi sukurlah saya lebih cerdik dari lipatan kertas suara. SPMB aja lulus, masa kalah sama kertas suara—> ga ada hubungannya memang yuk lanjut ke paragraf selanjutnya..hehe

Nah selesai mencontreng. Saya , Ibu dan adik saya buka-bukaan pilihan masing-masing. Pilihan kami ada yang sama ada yg berbeda. Tapi yg paling tricky pas milih caleg DPD karena gak ada yg kami kenal. Akhirnya saya ajak ibu dan adik ke papan  foto caleg di TPS untuk menunjuk calon yg tadi mereka contreng. Ibu pilih Bpk. A , “orgnya masih muda dan tampan. minimal enak dilihat walopun ga kenal”, katanya. Adik saya milih Bpk. B, “masih muda”, katanya singkat. Lalu saya ditanya, milih yang mana? , saya jawab milih Ibu X, alasannya karena dia satu-satunya caleg  perempuan diantara caleg DPD yang lain.

Kami bertiga pulang bersama. Kami mencontreng karena kami memilih untuk jadi ‘berwarna’. Walaupun warna kami berbeda, kami satu. memilih untuk jadi ‘berwarna’ atau tetap ‘putih’ adalah hak individu. Saya menghormati orang-orang yang ‘putih’ sama seperti orang-orang yang berbeda ‘warna’ dengan saya. Karena ini Indonesia, kitaberbeda tapi tetap satu. Jangan seragamkan apa-apa yang telah bervariasi. Jangan paksakan mencuci ‘warna’ jadi ‘bersih’ atau mengganti  ‘warna’ yang sudah dipilih. punya opini sah-sah saja,tapi jangan memaksa. tidak ada manusia yang suka dipaksa, bukan?

hormati yang protes , hormati yang datang ke TPS. Sesimpel itu, jgn diperpanjang lagi.

Beberapa saat setelah pulang dari TPS ada sms,

“Neng Eka, apakah kau ikut mencontreng? jadi apa pilihanmu?”–temen saya–

smsnya saya jawab, “utk DPR bla bla, utk DPRD bla bla..–>gak pake bla-bla biar gak kepanjangan aja.

“Oh selain yang DPR, pilih yang iklannya start paling awal ya, kalo aku pilih yang pojok kanan atas”–temen saya–

saya sudah duga, karena weekend lalu kami sudah bahas ini.

Saya lalu tersenyum, indahnya bisa bicara terbuka tentang perbedaan pilihan dan tetap diterima apa adanya tanpa saling tuding tentang yang paling benar.Manusia memang dibentuk oleh pilihan-pilihannya, dan memilih diantara banyak pilihan biasanya tidak mudah, tetapi menghormati dan menerima pilihan orang lain adalah hal yang sedikit berbeda. respect the differences, be a part of our nation’s diversities. Just like a spot in a mozaic masterpiece–Our beloved Indonesia.

Tinta di kelingking kiri saya hampir hilang sempurna, bukan karena saya malu karena ikut mencontreng, tapi karena warna tintanya gak matching sama tren saat ini..hehehe ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: