Dia tampan. jenis tampan yang membuat orang tidak butuh berkali-kali berpikir untuk memutuskan apakah dia benar-benar tampan.terkadang dia tidak datang–tapi cuma kadang-kadang–, lebih seringnya datang.
Dia tenang. Setenang pohon besar yang melingkupi halaman.
membuat siapapun yang berada dalam naungannya merasa teduh.
Dia penyabar. Cukup sabar untuk tetap bersama saya dan tidak pernah mencoba menangkupkan bantal pada muka saya ketika saya sedang tidur.–yah mungkin pernah terbersit dalam pikirannya berbuat demikian, tapi tidak pernah dilaksanakan, dan itu sudah cukup sabar–
Dia pun pemurah. Hatinya mudah tersentuh jika lihat orang susah.memberi baginya bukanlah kewajiban tapi kebiasaan.
kata saya: “kenapa tangan kamu selalu hangat?”
kata dia: “untuk tanganmu yang selalu dingin”
Malaikat itu ada. Saya punya satu
Dia tidak tampan. Sama sekali tidak.dan itu benar.
Dia datang dan pergi sesukanya.
Dia suka lupa. Lebih tepatnya melupakan, dia juga suka tidak menghiraukan.
Dia hanya memikirkan apa yang ingin dia pikirkan, dan pastinya apa yang dia pikirkan bukanlah perasaan orang lain.
Dia suka beberapa hal, dan sangat hebat pada hal-hal yang dia sukai.
Sulit sekali menebak-nebak pikiran dan perasaannya. Ada satu waktu saya dan dia hanya berjarak sejengkal tetapi terasa terpisah seluas benua.karenanya dia menjadi sangat jelas sekaligus sangat misterius bagi saya.
katanya: “ignorance is bliss”
kata saya:”ignorance is iblis”
kami sangat mirip dan sangat berbeda
dia adalah sekumpulan kebahagiaan, luka, dan mimpi saya.
kini dia adalah kenangan
Dan seperti halnya malaikat,
saya juga punya satu,
dan dia hantu




